Kejari Kab. Tangerang Temukan Indikasi Dugaan Penyelewengan Dana PKH

TANGERANG | TRANSPUBLIK.co.id -Kasus dugaan penyelewengan dana program keluarga harapan (PKH) di Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang semakin terang.

Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Tangerang menemukan adanya unsur yang mengarah pada tindak pidana korupsi setelah dilakukan pemeriksaan pada enam dari 30 orang agen BRI Link.

Kepala Kejari Kabupaten Tangerang Bahrudin melalui Kasi Intelijen Nana Lukmana mengatakan, agen BRI Link yang diperiksa masih sebagai saksi dalam kasus dugaan penyelewengan dana PKH.

Ia mengungkap, penyidik menemukan adanya dugaan pelanggaran yang mengarah pada tindak pidana korupsi setelah melakukan pemeriksaan.

Baca Juga:  Dua Pelaku Pembakar Rumah Jurnalis Rico di Karo Ditangkap, IJW Mengapresiasi Kapolda Sumut dan Pangdam I/BB

“Agen mengaku kepada kita bahwa setiap pencairan PKH yang mengambil uangnya itu pendamping dan ketua kelompok penerima manfaat (KPM). Bukan keluarga penerima sebagaimana aturan yang berlaku,” jelasnya, Selasa (16/2/2021).

Diketahui, pendamping PKH di Kabupaten Tangerang menunjuk ketua dari KPM yang bertujuan mempermudah komunikasi dan koordinasi. Termasuk saat pencairan, ketua KPM akan dihubungi pendamping. Kata Nana, kartu ATM dan buku tabungan milik keluarga penerima dikumpulkan di ketua kelompok.

“Saat pencairan, oknum pendamping akan meminta kepada ketua kelompok untuk mencairkan bantuan. Sekaligus membagikan uang bantuan kepada keluarga penerima,” jelasnya.

Baca Juga:  Rusdi Sinuraya Diapresiasi Bersama Kalangan Element Masyarakat Dalam Kompetisi Balon Wakil Walikota Medan | Transpublik .co.id

Nana menyebutkan, adanya potongan yang dilakukan oknum untuk setiap pencairan. Besarannya berbeda-beda mulai dari Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu per keluarga penerima setiap pencarian.

Diketahui, dana PKH ini dikhususkan bagi keluarga miskin yang juga termasuk kelompok penerima zakat. Mereka mendapat bantuan tunai dari Kementerian Sosial. Besarannya setiap keluarga berbeda-beda.

Untuk komponen kesehatan, ibu hamil dan yang usai melahirkan dan anak usia dini mendapat bantuan Rp 3 juta per tahun. Untuk komponen pendidikan, jika di dalam keluarga ada anak bersekolah di SD/sederajat, berhak mendapatkan bantuan Rp 900.000 per tahun.

Baca Juga:  Presiden RI Meninjau RSUD Arifin Achmad, Pasar Bawah dan Peresmian Tol Pekanbaru-Bangkinang

Lalu, yang bersekolah di SMP/sederajat mendapatkan bantuan Rp 1,5 juta per tahun, sekolah di SMA/sederajat Rp 2 juta per tahun dan penyandang disabilitas berat dan lansia mendapatkan bantuan masing-masing Rp 2,4 juta per tahun. Bantuan diberikan setiap bulan.

“Kita periksa baru enam orang. Sementara, kerugian negara di Kecamatan Tigaraksa saja selama 2018 hingga 2019 akibat ulah oknum di PKH ini sebesar Rp 3,5 miliar. Itu uang hasil pemotongan dan ada yang tidak menerima sama sekali padahal terdaftar,” pungkasnya.

(TP/Ridwan)

Komentar