MEDAN | TRANSPUBLIK.co.id – Perjalanan hidup dimulai dari tempat penampungan barang bekas plastik (botot) yang terletak di Jalan Andan Sari, Lingkungan 19, Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan,” ujar Nurhayati, Senin (24/5/2021).
Awal kisah sukses, penampungan botot plastik dirintis sejak gadis dengan bekerja sebagai kuli Buruh lepas di penampungan milik orang lain. Berangkat dari keinginan keluar dari kesusahan hidup, apalagi saat itu, Sang Bunda sedang sakit, dimana perlu uang buat beli. Penghasilan dari kuli buruh di penampungan sangat kecil, untuk buat makan aja, masih kurang, apalagi buat beli obat, ungkap Nurhayati dengan berlinang air mata.

Pahit getir dan perjuangan hidup dengan serba kekurangan, dilakonin dengan sabar juga tekun, yang terpikir bagaimana bisa keluar dari kemiskinan, sampai waktu tidak terasa, sudah 10 tahun bekerja sebagai kuli buruh di penampungan milik bos.

“Berbekal pengalaman serta modal seadanya, mencoba nasib untuk membuka usaha sejenis yakni penampungan botot plastik karena dalam benak pikiran, plastik sangat di butuhkan selama manusia tetap ada di bumi,” imbuh ibu Nurhayati.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, perjuangan yang dirintis dengan semangat tinggi tanpa mengenal waktu, mulai menampakkan hasil. Seiring dengan mulai meningkat nya penghasilan, dan mulai berpikir untuk berumah tangga, kadang dalam lamunan. Maunya dapat suami yang pedagang, dan usaha botot ini terus bisa berjalan. Syukur doa dan impian tercapai, diberikan Tuhan Yang Maha Esa, seorang suami yang mau ikut berdagang.
Mulailah ide membesarkan penampung botot dengan bantuan suami, awalnya kami memperkerjakan sebanyak 3 orang dengan gaji standart, itu pun kami rekrut tetangga yang masih ada hubungan keluarga.
Waktu bergulir, dan semangat terus berjuang ingin membesarkan, muncul ide untuk membeli mesin pencacah. Dengan bermodalkan pinjaman dari Bank, mesin pencacah terbeli dengan kapasitas 10 ton per minggu.
“Alhamdulilah, kerja keras bersama suami membuahkan hasil, sekarang jumlah karyawan sudah mencapai 20 orang, dan mobil truck serta perluasan tempat usaha bisa kami beli,” papar Nurhayati.
Dari hasil pantauan awak media di lapangan, kegiatan usaha penampungan botot plastik ibu Nurhayati, tetap memperhatikan lingkungan, yang mana sisa hasil ikutan limbah yaitu oli bekas tidak dibuang sembarang ataupun di sungai, tapi dikumpulkan dalam wadah.
(TP/John Panjaitan)

Komentar