Anak Oknum Dosen di UNIMED Hantam CS, Suratik, Tidak Mau Cabut Laporan 

MEDAN – Seorang petugas kebersihan atau Cleaning Service (CS) di Universitas Negeri Medan (UNIMED) yang bekerja di bawah naungan PT. Lamtoro Blang Mane pada Kamis (27/6/2024) siang diduga menjadi korban pemukulan seorang anak dari oknum Dosen (K) di area Gedung Galeri pada jam istirahat kerja sekitar pukul 12.00 WIB.

Suratik (45 tahun) warga Jalan Beringin Pasar 7, Desa Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang mengatakan, pemukulan yang dilakukan oleh anak dosen tersebut berawal dari tuduhan atas dugaan perselingkuhan antara Suratik dan oknum dosen tersebut.

“Saat jam istirahat, saya dipanggil Ibu Ida yang menjabat sebagai mandor (pengawas) di gedung Galeri itu. Dibilangnya, ada orang cari saya sambil menunjukkan di mana orang itu berada.

Kemudian, ada laki-laki yang memanggil saya. Dia bilang, eh, sini kau. Saya datang kearahnya, setelah itu ditarik ke samping gedung. Diluar itu saya dipukul sambil lonontarkan tuduhan perselingkuhan dengan ayahnya.

Anak itu (pelaku) juga merampas HP saya. Saya sempat menarik bajunya karena mau ambil hp saya yang dirampasnya itu, tapi saya jatuh terduduk karena didorongnya dan pinggang saya terasa sakit setelah ada terdengar tulang yang bunyi di bagian pinggang belakang. Hampir 1 jam HP saya diperiksa-periksa sama anak itu,” jelasnya.

Security yang sedang standby di Gedung Galeri sempat melerai aksi kejam anak dosen itu, sambung Suratik, jika tidak ada petugas keamanan maka pelaku lanjut memukulinya.

Baca Juga:  ACT Gelar Kembali Safari Dakwah Syekh Palestina

“Saat saya sudah terjatuh, security datang melerai agar pelaku tidak mukul saya lagi. Saat itu saya sembunyi di belakang mandor Ida dan saya dibawa ibu itu ke sebuah ruangan di gedung Galeri. Dia suruh saya jangan keluar dulu,” sebutnya.

Pantauan awak media di lokasi, sejak kejadian pemukulan itu (siang) hingga menjelang sore, Suratik sempat menunggu itikad baik dari pelaku, namun pelaku tak kunjung datang melihat kondisinya.

Tidak menunggu lama, karena kondisi Suratik sudah kesakitan dibagian pinggang akibat terjatuh, awak media bersama Suratik yang berjalan tertatih sembari di gotong pun mendatangi ruang seorang dosen tersebut.

Saat bertemu dengan ayah pelaku, ia (dosen) pun menyebutkan bahwa pelaku saat ini sedang mengajar di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang belum diketahui berada di Kabupaten Deli Serdang atau Kota Medan.

“Sekarang dia (pelaku) ngajar di SMP Muhammadiyah,” ucap oknum dosen tersebut pada rekaman suara yang sempat terekam awak media pada menit ke 13:11.

Saat meminta pertanggungjawaban atas perlakuan anaknya terhadap Suratik, Khaerul pun menelpon anaknya melalui WhatsApp miliknya. Tetapi, pelaku diduga tak ada itikad baik untuk meminta maaf maupun bertanggungjawab.

Di dalam rekaman suara, pelaku sempat mengelak tidak melakukan pemukulan.

“Aku yang dipukul,” cetus pelaku yang belum diketahui namanya pada panggilan telepon WhatsApp yang berhasil terekam oleh awak media pada menit ke 18:19.

Tak menunggu lama, Suratik menempuh jalur hukum dan membuat laporan Polisi di Polsek Medan Tembung pada Jum’at (28/6/2024) dengan nomor LP/B/975/VI/2024/SPKT/POLSEK MEDAN TEMBUNG/POLRESTABES MEDAN/POLDA SUMATRA UTARA. Pelaku kekerasan tersebut, yang juga diketahui sedang menempuh pendidikan di UNIMED, menjadi terlapor atas dugaan tindak pidana penganiayaan berat sesuai dengan UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP Pasal 351.

Baca Juga:  Gara-gara Anjing Istri Wartawan Dilaporkan, Diduga Reskrim Polrestabes Medan Paksakan Laporan Menjadi Proses Hukum

Suratik juga telah menjalani visum di RS Haji Medan untuk mendokumentasikan cederanya pasca insiden tersebut. Namun, hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Universitas Negeri Medan terkait insiden ini, dan beberapa saksi mata yang menyaksikan kejadian enggan memberikan kesaksiannya karena takut akan intimidasi dari pihak-pihak tertentu.

Lebih lanjut, pada Senin (1/7/2024) sekitar pukul 10.00 WIB secara tiba-tiba dan tanpa kabar, Suratik mengaku didatangi 4 (empat) orang laki-laki yaitu dua orang mandor bernama Heri bersama Doni dan dua orang perwakilan dari pihak universitas yang diutus untuk menjumpai Suratik. Namun, kedatangan mereka malah membuat Suratik semakin mengalami sakit dibagian pinggang. Sebab, seorang perwakilan dari Universitas yang bernama Ibrahim memaksa Suratik agar mau dan menurutinya untuk dikusuk di bagian pinggang yang sakit. Sebelumnya, Suratik sempat menolak, akan tetapi apalah daya, Suratik yang masih terbaring lemas tak dapat berbuat apa-apa karena saat mereka datang hanya Suratik dan anak perempuannya yang ada di rumah. Sementara suami dan anak laki-lakinya sedang tidak di rumah.

“Tadi tiba-tiba datang empat orang, mandor dan perwakilan dari Universitas. Satu orang itu diutus oleh ayahnya pelaku (dosen). Mereka datang mau minta damai. Kata pak Ibrahim, kalau nggak mau damai nanti saya yang banyak keluarkan uang. Kata dia bisa keluarin uang sampai Rp. 10 jutaan. Setelah itu, dia (Ibrahim) mau lihat dimana yang sakit. Saya bilang dibagian pinggang. Saya pikir dia cuma mau lihat, tetapi saya disuruhnya telungkup pelan-pelan sambil menekankan kedua telapak tangannya dibagian pinggang saya sampai tulang saya bunyi. Setelah itu pinggang saya dibagian tulang ekor ini diinjak bapak itu pakai salah satu kakinya menggunakan tumit. Itu makin nambah sakitnya.

Baca Juga:  Walhi Sebut Terjadi Pelanggaran HAM, Ketum PB PASU Minta Pemerintah Tutup PT. SMGP di Sibanggor Julu

Tapi dia bilang biar sembuh. Sudah lah merasakan sakit, saat terbaring itu saya disuruh cium lutut sendiri sambil mengangkat kedua kaki. Pagi tadi suami dan anak saya sedang kerja. Kondisi saya semakin tidak bisa bergerak miring ke kanan dan kiri setelah mereka pulang. Ya ini makin nambah sakitnya. Saya tetap nggak mau cabut laporan meski ditakut-takuti sama mereka,” ungkap Suratik menceritakannya kepada awak media pada Senin (01/7/2024) malam.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi atau tanggapan resmi dari pihak Universitas Negeri Medan terkait insiden ini. Sementara, para saksi di lokasi diduga enggan memberikan kesaksiannya karena takut adanya intimidasi dari beberapa pihak.

Dengan adanya kasus ini, awak media akan terus memantau perkembangan dan memberikan informasi lebih lanjut mengenai tindakan yang akan diambil oleh pihak berwenang dan universitas terkait. (Red/Tim)

Komentar