oleh

Heran… Kasus Sudah Damai, Joao Pedro Da Silva Kembali Jadi Tersangka di Polrestabes Medan

MEDAN | TRANSPUBLIK.co.id – Berawal dari surat perintah, Nomor SP Kap/936/XI/Res.1.6/2020/Reskrim/Tanggal 20 November 2020 yang ditandatangani oleh Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Martuasah Hermindo Tobing. Joao Pedro Da Silva Bastos (48 Tahun), warga Jalan Amal, Komplek Evergreen Blok H 18, Kelurahan Sunggal, ditangkap atas Laporan SRI Wahyuni dengan Nomor LP./2515/X/2020/SPKT Restabes Medan, tertanggal o9 Oktober 2020.

“Saya ditangkap dan diperiksa oleh penyidik atas Dugaan tindak pidana kekerasan fisik dalam rumah tangga, sebagaimana dimaksud dalam pasal 44 ayat (1) UU RI No. 23 Tahun 2004. Tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga,” ujar Joao Pedro.

“Dalam Kasus KDRT ini, saya sudah melakukan langkah hukum dsngan melakukan perdamaiam dengan sang pelapor Sri Wahyuni (Status Isteri sah) dan pada saat itu pelapor sudah melakukan permohonan pengaduan tertanggal 21 November 2021,” lanjut Joao Pedro.

Joao Pedro menambahkan, “dalam perdamaian per tanggal 21 November 2020. Saya di suruh membayarkan sejumlah uang sebanyak 110 juta dengan perincian, masing masing anak mendapatkan uang sebesar 55 juta sebagai biaya keperluan anak. Dan 50 juta lagi biaya cabut perdamaian, tapi dalam kwitansi dibuat sebagai biaya honor pengacara Prodeo, seluruh Biaya ada di dalam kwintasi dan saya simpan,” ungkapnya.

Baca Juga:  Kapolrestabes Medan Kombes Pol Johny Eddison Isir Sik, MTCP Memimpin Press Release Kasus Tentang Pencurian dengan Kekerasan 26 TKP

Setelah 5 bulan datang, Surat panggilan 1, dengan Nomor S. Pgl/135/Iv/Res1.6/2021/Reskrim, Tertanggal 24 April 2021, ditanda tangani Kasat Reskrim U. b. Wakasat Selaku Penyidik, atas nama Rafles Langgak Putra, yang isinya disuruh datang pada Hari Rabu, 28 April 2021, pukul 10.00 WIB sebagai tersangka dalam pasal 44 ayat (1) UU RI No. 23 tahun 2004, Kamar Nomor VI unit PPA.

“Saya bingung dan heran, kenapa saya dipanggil lagi atas kasus yang sama sementara saya sudah berdamai dengan Sri Wahyuni dan sudah dicabut surat pelaporan dan perdamaian dilakukan di Polrestabes Medan,” papar Joao Pedro.

Baca Juga:  HIPPAM Moya Zam-Zam Siap Produksi Air Minum Mineral Brand "Nusantara"

Awak media, mencoba menggali informasi lebih lengkap dengan mendatang Ruangan Reskrim di Polrestabes Medan pada Rabu, tangal 4 Agustus 2021. “Mau jumpai siapa pak, Tolong isi dulu daftar tamu,” ujar pegawai wanita, sambil menyodorkan buku tamu.

“Saya mau ketemu dengan Kasat Reskrim, tanya awak Media. “Sebentar ya pak, biar saya hubungi beliau (maksudnya Kasat Reskrim), dan silakan duduk pak,” imbuh wanita itu, selanjutnya.

Selang beberapa saat, kembali sang wanita mengatakan, bahwa Bapak PLT Kasat Reskrim tidak berada di ruangan karena ada kegiatan PPKM, dan coba telpon aja dulu pak,” imbuhnya. Selanjutnya awak media mencoba menghubungi di No Hp 081xxxxxx, namun tidak diangkat dan selanjutnya awak media menghubungi dengan WhatsApp dan tidak ada jawaban.

Sampai berita ini diturunkan, Bapak PLT Kasat Reskrim tidak bisa dihubungi, baik melalui via telpon, maupun via WhatsApp.

Baca Juga:  Menitikfokuskan Lokasi Penyalahgunaan Narkotika, Kasat Narkoba Polrestabes Medan Melaksanakan Kegiatan Kampung Bersinar

Untuk mencari titik terang dan informasi kasus ini, awak media berusaha menemui seorang pengacara, Rakerhut Situmorang selaku Penasehat Hukum di salah satu Media Online Nasional dan mewawancarainya.

“Menurut Bapak, bagaimana kasus ini, bisakah seorang yang kasusnya sudah berdamai, apa bisa kembali dijadikan tersangka,” tanya awak Media.

“Kalau melihat kasus KDRT tersebut yang dialami saudara Joao Pedro, itu kan berupa delik aduan absolut, jika memang sudah terjadi perdamaian, kasus itu sudah SP3. Dan jika dalam poin tersebut tersangka wanprestasi, itu bukan lagi ranah pidana, tapi itu ranah perdata,” ucap Rakerhut Situmorang.

Menurut Raker Situmorang, “Azas Hukum apa dan Pasal apa yang diterapkan Penyidik terhadap kasus tersebut? Kan sudah Berdamai dan sudah Dicabut LP nya, tapi kenapa dipanggil lagi sebagai Tersangka??? Penyidik tidak Profesional,” tutup Rakerhut Situmorang, mengakhiri wawancara dengan awak media.

(TP/Tim/JP)

Komentar

Berita Terkini